Setelah menyebrang selama satu setengah jam menggunakan fast boat, saya dan A akhirnya sampai ke gili trawangan. Sebelumnya, mba D sudah menemukan penginapan untuk kami via internet, yaitu bale sasak. Kenapa di bale sasak, karena harga sewanya paling murah yang bisa ditemukan di internet. Kami memilih dorm room, dengan harga sewa 70rb per hari. Begitu sampai, A mencari warung nasi dulu untuk makan siang menjelang sore. Setelah itu kami mencari-cari letak bale sasak. Mba D sudah sampai duluan, namun entah kenapa tidak mengangkat telepon dari kami. Saat bertanya pada orang sekitar, mereka malah tidak tahu. Lama kami mencari sampai akhirnya ketemu. Mba tidak ada di sana, ternyata dia menjemput kami ke dermaga.
Saat mba D sampai ke penginapan, dia menawari menginap di satu kamar untuk bertiga. Akhirnya kami memilih satu kamar besar dengan dua kasur ukuran 1. Perorangnya jadi 100rb, include breakfast. Saya sih ikut saja. Sayang kamar mandinya tidak nyaman dan entah kenapa kamarnya terkesan kusam. Ya sudah, cuma dua hari.
Sore itu, mba D dan A langsung berenang ke pantai. Saya tidak ikut dan mau mandi saja karena terakhir mandi itu pas di jogja. Saya berencana menyusul mereka untuk lihat sunset di bagian barat. Bodohnya saya, saya melihat jam tangan yang belum saya update ke WITA. Saat saya keluar jam lima sore ternyata sudah jam enam dan mataharinya sudah tenggelam. Jadilah lihat sunsetnya gagal. Saya akhirnya ke dermaga, satu-satunya dermaga bentuk jetty di gili trawangan.
Tiba-tiba saya disapa oleh orang di tempat duduk seberang kanan, memudarkan fokus saya. Mereka orang lokal dan mengajak ngobrol saya. Entah kenapa saya merasa tidak nyaman lama-lama berada di sana dan hari sudah mulai gelap. Saya pun pamit dan janjian dengan mba D yang sudah selesai lihat sunset di dekat pasar.
Kami pun mencari makan lalu mencari penyewaan sepeda untuk jalan-jalan keliling pulau. Kami makan di dekat dermaga, yang kalau malam jadi pasar makanan. Setelah keliling-keliling, saya memilih paket ikan nila goreng seharga 15 ribu karena itu yang paling murah. Mba D juga beli nila dan A beli bakso. Saya langsung merencanakan membeli nila lagi untuk besok malam begitu mencicipi sambal nila goreng dari warung di bagian belakang sebelah kanan kalau dari pasar. Sambalnya enak.
Mba D sudah sewa 1 sepeda dari penginapan. Jadi tinggal mencari sepeda untuk saya dan A. Nah, A ini maunya sepeda tandem. Setelah mencari-cari, kami menemukan sepeda tandem, dengan harga sewa 80ribu per hari. Kami sewa 1 sepeda untuk berdua, jatuhnya 40 ribu per orang karena sepeda tandem itu sepeda untuk dua orang. Kami pun langsung sepedahan namun tidak keliling pulau karena sudah malam.
Sampai di penginapan, kami beres2, mencoba menonton film tapi malah tidak fokus karena ngobrol. Setelah beberapa lama, A dan mba D memutuskan tidur. Saya masih belum mau tidur dan mau lihat bintang dari luar kamar. Saya pun duduk di tangga depan kamar, melihat bintang-bintang di langit yang malam itu cerah tanpa awan sambil menulis artikel blog.
Bale sasak punya kolam renang kecil di tengah penginapan dan ada dipan untuk tiduran. Saya pun turun dan tiduran di salah satu dipannya. Ada satu bule lain yang juga tiduran di pojok, sisanya kebanyakan sudah pergi ikut party. Gili trawangan itu makin on menjelang tengah malam. Kalau pergi kesini, biasanya akan ditanyai dua pertanyaan umum, mau party atau snorkling? Yang arti luasnya kira-kira, mau hura-hura atau beneran menikmati pulau? Kalau saya malas ikut ajeb ajeb kayak gitu. Bukan apa-apa, memang saya tidak suka yang rame-rame begitu, lebih enak begini, lihat bintang dalam suasana sepi. Sambil berbaring, saya mencoba meditasi. Nyaman sekali. Sejam saya bertahan disana sampai menjelang tengah malam dan akhirnya kembali ke kamar untuk tidur.
Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi, sekitar jam setengah 6 kami ke luar naik sepeda untuk lihat sunrise di pantai. Kami memilih pantai sebelah timur dekat dermaga. Senangnya hari itu tidak berawan, jadi sunrisenya terlihat cantik sekali.
Pagi-pagi merupakan waktu paling pas untuk sepedahan keliling pulau, karena masih sepi dan cuaca tidak panas. Hanya saja, berkali-kali kami harus menuntun sepeda di jalan berpasir karena sulit dilalui kalau naik sepeda. Karena jam sembilan A dan mba D harus siap-siap untuk snorkling, saat sudah 3/4 keliling pulau, kami memutuskan untuk memotong jalan karena sudah jam 8 lewat. Kami memotong lewat perkampungan, bahkan sempat beli gorengan di salah satu warung penduduk dan beli cilok di depan SD. Cilok goreng depan SD ini enak kalau kata mba D. Mba D sama A sampai ketagihan beli cilok ini, bahkan sudah berencana beli besoknya. Kata saya sih biasa aja, cuma lumayanlah mengingat di sini tidak banyak pilihan jajanan. Di depan SD juga, saya cuma melihat abang penjual cilok saja, tidak ada yang lain.
Sampai di penginapan, kami langsung sarapan sambil makan cilok. Setelah itu, mba D dan A siap-siap untuk snorkling. Sayangnya saya tidak ikut karena alasan cewek. Alat snorkling saya pun dipakai oleh mba D. Mereka segera berangkat menuju dermaga pemberangkatan. Untuk snorkeling ke tiga pulau, biayanya 100 ribu termasuk masker dan snorkel. Kalau bawa alat sendiri, biayanya jadi 85ribu.
Ditinggal mba D dan A, saya bingung mau ngapain. Mau duduk-duduk di kolam renang, tapi lagi rame sama tamu lain. Saya berencana naik sepeda lagi keliling pulau tapi kok malah malas. Akhirnya saya mandi dulu. Sekitar menjelang tengah hari, akhirnya saya keluar dari kamar yang adem lalu mengambil sepeda di bawah. Panas-panas begini naik sepeda, ngaco juga sih saya. Tapi ya masa bodoh, naik sepeda tidak ada hubungannya sama cuaca. Bule yang tadi malam tiduran di dipan menyapa saya dan mengomentari cuaca dalam bahasa indonesia begitu melihat saya mau sepedahan. Mungkin dia merasa aneh saya mau sepedahan tengah hari bolong, 'panas banget' celotehnya. Saya cuma mengiyakan dan tertawa mendengarnya. Memang panas banget lombok di siang hari! Lebih panas dari daerah tempat tinggal saya, yang notabene sudah masuk kategori panas.
Saya pun dengan cueknya sepedahan. Tapi tidak akan keliling pulau, karena tadi pagi sudah keliling jauh. Perlu diketahui, gili trawangan itu luas, lebih luas dari derawan. Naik sepeda saja tidak cukup sejam untuk keliling satu kali, padahal kalau di derawan, jalan kaki sejam sudah bisa keliling pulau. Saya pun menggenjot sepeda ke arah barat yang jauh lebih sepi. Saya berhenti di pendopo yang sepertinya dipergunakan untuk melihat sunset di sore hari. Terbilang sepi.
Lama saya berada di sana, setelah bosan, saya pun bersepeda lagi. Kira-kira jam setengah dua, saya mengayuh sepeda kembali ke penginapan. Capek juga ternyata. Di depan dermaga, saya membeli nasi bungkus seharga 10 ribu. Katanya sih nasi bungkus paling murah yang bisa ditemui di sana. Saat sudah di penginapan, saya sempat mandi lagi dan ngadem di kamar yang dingin, lalu kembali turun ke pantry, tidak lupa bawa novel. Kebanyakan tamu malas ke luar siang-siang begini, makanya ruang santai itu penuh. Saya pun duduk dan membaca di sana sambil menunggu mba D dan A pulang jam tiga.
Saat kembali, mereka pun langsung mandi dan tidur. Saya mengajak mereka lihat sunset tapi A malas dan hanya mba D yang tertarik. Saya sengaja duluan pergi karena mau ke dermaga lagi dan janjian sama mba D dekat dermaga menjelang senja.
Saat saya ke dermaga hari itu, suasananya agak ramai dibandingkan kemarin. Saya bertemu bapak yang sama kemarin dan menyapanya. Tapi entah kenapa saya malas ngobrol lama dan akhirnya turun ke boat landing di bagian bawah dermaga. Ada bapak lain di sana. Bapak itu sedang liburan di gili trawangan, ikut rombongan dan baru sampai tadi sore. Kami mengobrol dan saya ditunjukan cara memancing ikan pakai botol plastik yang dililit senar plastik, diberi umpan, lalu diikatkan begitu saja dekat dermaga. Ada banyak anak-anak yang sedang memancing di dermaga apung di sebelah dermaga ini. Sayangnya tidak dapat ikan. Bapak ini berkomentar kalau sudah banyak boat yang landing, ikan-ikannya akan kabur semua, jadi anak-anak itu tidak dapat ikan. Kasian. Saya beralih mengamati ikan-ikan kecil warna warni di sekitar boat landing. Banyak sekali. Tidak lama anak-anak ini berpindah dari seberang ke boat landing tempat saya berada. Mereka tampak malu-malu saat mengobrol dengan kami. Karena sudah menjelang senja, saya pamit dan menunggu mbak D di depan di dermaga.
Tidak lama, mba D datang tanpa ditemani A, katanya A ini mau capek jadi lanjut tidur. Saya dan mba D berjalan ke arah barat, ke pantai yang tadi siang saya datangi. Rasanya kami telat, karena saat itu hari sudah agak gelap. Begitu sampai di tempat dimana orang biasa menikmati sunset, terlihat kalau langit tengah berawan, jadi sunsetnya tidak kelihatan. Kami akhirnya hanya duduk mengobrol di tengah kegelapan.
Jujur, saya baru kenal mba D selama dua hari, perkenalan ini pun bermula secara acak dari sebuah blog. Aneh. Saat itu kami mengobrol banyak sekali. Mba D bilang dia tidak tahu kenapa dia mencantumkan nomornya di blog itu dan dari sekian banyak orang, kenapa akhirnya hanya saya menghubungi dia, di waktu yang sangat pas. Percaya atau tidak jadwal kami benar-benar pas. Saya memang rencana ke gili hari senin dan pulang rabu siang karena hari kamis saya harus sudah sampai ke senggigi kalau mau ikut live on board. Mba D pun sama jadwalnya. Hari jumat dia harus kembali ke jakarta jadi hari rabu dia harus pulang dari gili. Betapa pas nya. Selain itu, dengan berkenalan dengan mba D, saya juga dapat teman berangkat dari bali yaitu si A.
Anehnya lagi, setelah mengobrol banyak kami jadi tahu bahwa kami punya pemikiran dan passion yang setipe. Terpaut lima tahun diatas saya, mba D menceritakan pengalamannya bekerja dan sekarang dia sudah keluar dari pekerjaannya, mencoba untuk traveling sambil cari kerja ke luar negeri. Saya tidak pernah percaya pada hal yang disebut kebetulan. Buat saya, there's nothing by accidence. Di tengah kebingungan saya yang lulus kuliah beberapa bulan lalu dan bertemu dengan mba D dengan segala ceritanya, saya merasa tidak sendirian. Bahkan mba D sekarang merasakan kebingungan yang saya rasakan, untuk memilih jalan mana yang mau diambil. Karena dia sedang mencoba melepas pekerjaannya dan masih bingung dengan apa yang nanti akan dia jalani. Saya juga sedang bingung, mau bekerja saja atau benar-benar mengejar passion saya yang masih ngawang-ngawang. Pokoknya, bertemu dengan dia di tengah perjalanan yang saya putuskan secara random bukanlah kebetulan. Saya amat senang menemukan teman sepemikiran dalam perjalanan ini. Kami berbagi mimpi dan ide gila kami dalam obrolan singkat ini. Karena selama dua hari sebelumnya, saya belum mengobrol banyak dengan mba D. Kalau A ikut, mungkin saya tidak akan ngobrol seperti ini dengan mba D. Benar-benar bukan suatu kebetulan.
Tidak terasa sudah sekitar sejam kami di sana. Kami sama-sama tidak mendapat sinyal hape jadi tidak tahu dimana A sekarang. Kami akhirnya kembali pulang dan setelah mendapat sinyal, janjian dengan A yang sudah bangun untuk makan di pasar dekat dermaga. Seperti malam sebelumnya, saya dan mba D sudah janjian mau beli ikan nila goreng lagi, dengan sambal double. Sambalnya enak banget! Kali ini A juga ikut beli mendengar kami berbicara lebai tentang sambal di warung yang itu.
Setelah makan, kami pulang ke penginapan untuk mengembalikan sepeda tandem yang berhasil membuat paha kami nyeri semua. Alhasil, kami tidak menaiki sepeda saat mengembalikannya, melainkan dituntun saja. Tidak ada yang mau menaiki lagi. Sakit. Setelah dari sana, saya sempat mengunjungi dermaga lagi. Namun suasana dermaga malam hari amat berbeda, jauh lebih seram. Ada gap dalam yang bisa terlihat di mana penduduk lokal gili trawangan berkumpul dalam suasana gelap dan kumuh di dermaga sedangkan turis asing memenuhi bar sekitar dermaga dengan gemerlap lampu disko dan kemeriahan party. Mungkin inilah kenapa saya merasa tidak nyaman dengan dermaga ini begitu pertama kali menginjakan kaki di sana. Malam itu, saya buru-buru mengajak mba D ke luar dari dermaga. Kami memutuskan kembali ke bale sasak. Di kamar, kami mulai mengepak pakaian dan printilan lain masuk tas. Seperti malam kemarin, mba D dan A tidur duluan sedangkan saya mau melihat bintang lagi. Saya turun dan tiduran di dipan dekat kolam renang. Tidak ada siapapun malam itu. Saya mendengarkan lagu sambil memandang jutaan bintang cantik di langit. Tenang dan nyaman sekali. Sejam saya bertahan di sana kemudian naik ke kamar untuk tidur.
Keesokan harinya, kami agak malas-malasan bangun. Kami langsung mandi dan menyiapkan tas. Mba D dan A sudah ngidam cilok. Setelah semua beres, kami pun berjalan kaki menuju SD untuk membeli cilok, sekalian untuk bekal kalau kata mba D. Kocak. Begitu pulang kami langsung sarapan seraya menaruh tas di bawah. Sarapan kami tidak lupa ditemani cilok goreng yang baru dibeli. Sebagian lagi disimpan untuk makan di jalan karena mba D dan A beli dalam porsi banyak. Kami mengaso sebentar, bayar penginapan lalu check out. Saat itu sudah setengah 10. Kami berjalan ke tempat penyebrangan kapal menuju bangsal. Harga tiket untuk kapal kayu biasa adalah Rp12500 per orang dengan lama perjalanan sekitar 20-30 menit. Sistemnya harus menunggu sampai kuota penumpang terpenuhi baru kapal bisa berangkat. Ada juga yang kapal cepat, tidak perlu nunggu, tapi saya lupa harganya berapa. Kalau mau langsung ke bali, kita bisa naik fast boat dari gili trawangan langsung ke padang bai, katanya harganya lebih mahal daripada kalau beli di bali (200ribu sekali jalan jika beli dari padang bai). Lama perjalanan naik fast boat ini cuma satu setengah jam sampai ke padang bai, setiap harinya beroperasi dua kali.
Setelah sampai ke gili trawangan, kami pun berpisah. Mba D dan A kembali ke Bali sedangkan saya harus ke senggigi untuk ikut live on board. Mba D menelepon ojek yang pernah mengantar dia di lombok. Rencananya saya mau naik ojek itu untuk diantar ke senggigi dari bangsal. Abang ojeknya minta ongkos 40ribu. Setelah menunggu agak lama, abang ojeknya pun datang. Si abang ini bertanya, mau cepat atau lambat? Saya bingung maksudnya. Akhirnya dia menjelaskan kalau cepat nanti dia ngebut, tapi kalau saya mau menikmati pemandangan, dia akan bawa motornya lambat.
Perjalanan dari bangsal ke senggigi yang ditempuh sekitar sejam benar-benar memanjakan mata. Serius, cantik banget meski hanya terlihat dari jalan.
Tidak seperti dugaan saya, pantai senggigi biasa saja. Ramai dan cenderung berantakan, entah oleh pedagang, perahu, atau ramainya turis. Saya malas berlama-lama di sini. Jadi kami cuma berjalan sepanjang pantai lalu kembali lagi. Tidak sampai setengah jam. Setelah itu kami kembali naik motor ke arah penginapan yang baik saya maupun abangnya tidak tahu letaknya di mana. Jadi berdasarkan info mba D yang sebelumnya menginap di la casa sebelum ke gili, saya rencananya mau menginap di sana, karena tarifnya mungkin yang paling murah yang bisa didapatkan melalui internet. Letaknya masuk gang dekat pure melase, sayangnya abangnya juga tidak tahu dimana pure melase itu. Kami jadi tanya orang di jalan hingga akhirnya sampai di la casa. Saya tidak melakukan reservasi karena saya menggampangkan bahwa pasti bakal dapat kamar, apalagi saat itu belum musim liburan. Untungnya kebodohan saya tidak membuat saya terlantar karena masih ada satu kamar kosong di sana. Kata bu putu pemiliknya, beberapa hari ini selalu penuh oleh turis asing. Untung saya masih dapat kamar. Di la casa tarif menginap per harinya 120ribu, kamarnya juga lumayan besar, bisa buat dua orang.
Selama di la casa, entah kenapa saya malas kemana-mana. Karena sudah melihat senggigi, saya jadi tidak penasaran lagi. Saya pun menghabiskan waktu di penginapan, bermain sama anak bu putu dan keponakannya, sekalian menyimpan tenaga untuk 4 hari ke depan.
Saya memastikan pada pihak tour live on board bahwa saya jadi ikut hanya beberapa hari sebelumnya, saat masih di gili. Katanya saya bisa bayar on the spot. Keesokan harinya, di hari kamis yaitu hari keberangkatan, saya menanyakan perihal meeting point, ternyata saya langsung dijemput di gang pure melase, tidak ikut briefing dulu di senggigi. Katanya juga ada dua orang yang berangkat dari la casa, tapi saya tidak tahu yang mana karena kamar saya ini terpencil di depan di sebelah kamar bu putu. Saya kan belum ambil uang di atm, lalu kata abang tournya, gampang nanti mampir di jalan saja. Ya sudah, saya pun santai dan bersiap-siap sekitar jam 11. Saya pun ke luar dari la casa jam setengah ternyata yang menjemput bukan abang yang saya sms. Bodohnya saya, saya santai saja tidak meminta berhenti di atm, sehingga sampai labuan lombok, saya bahkan tidak bawa duit. Saya kira akan ada atm di sana, ternyata tidak ada. Pelabuhan ini terbilang agak terpencil. Beruntung saya diantar naik motor ke atm dari pelabuhan lama ke pelabuhan baru. Karena pelabuhan kapal kecil ini beda dengan pelabuhan feri. Setelah membayar, memberi fotokopi ktp dan didata, saya pun langsung naik kapal kayu yang akan menjadi rumah sementara selama 4 hari ke depan.
Cerita selanjutnya tentang live on board ini akan saya post di part 3.