Kurang lebih dua minggu lalu, saya melakukan perjalanan dari Karawang menuju Nusa Tenggara, sendirian. Total perjalanan tersebut sekitar 16 hari, dengan titik terjauh adalah Waerebo.
Jujur, pada awalnya saya mendadak merencanakan trip ini. Hanya dalam seminggu, tiba-tiba saya nekat membolang sendirian ke nusa tenggara. Awalnya saya mau ke lombok saja, yaitu ke gili trawangan. Kenapa? Karena sahabat saya yang sudah meninggal dunia sangat menyukainya dan saya jadi penasaran seperti apa gili trawangan itu. Saya tidak tahu mau kemana lagi setelah gili trawangan. Tiba-tiba saya terpikir untuk ikut live on board lombok-labuan bajo. Dari dulu, saya ingin mencoba live on board ini tapi tidak pernah bertemu momen yang pas. Entah kenapa saat itu saya merasa inilah momennya. Saya langsung menghubungi salah satu agen dengan harga yang paling murah, menawar harga lalu dengan nekatnya pesan untuk tanggal 12 mei. Dia bilang saya harus DP, 50% minimal seminggu sebelum keberangkatan. Saya tidak berpikir dan bilang oke-oke saja, itu masih akhir april, mungkin tanggal 26. Saya bahkan tidak tahu, nanti kalau sudah di bajo mau ngapain. Pulangnya pun saya tidak berpikir, hanya ada tiga pilihan sulit, 1.naik pesawat dengan biaya mahal, 2.naik kapal lagi, ikut live on board lagi, biayanya juga mahal, sekalipun saya dengan sebuah mukjizat bisa naik gratis untuk pulang balik ke lombok, saya harus menghabiskan 4 hari lagi di laut, 3.naik bis, entah mau sampai lombok, bali atau langsung jakarta, itu juga tidak murah. Oke, semuanya pilihan yang sulit untuk saya dengan budget terbatas ini. Saya tidak memikirkan live on board ini. Yang saya pikirkan pertama adalah gili trawangan, akhirnya saya mencari info mengenai rute, penginapan, dan sebagainya. Lucunya saya nyasar ke sebuah blog yang lumayan informatif. Di bagian komentar, ada seseorang yang menyatakan mau ke gili trawangan sendirian di tanggal 8, dan mencari teman. Saya dengan pedenya menawarkan diri tapi dengan nickname bodoh yang mungkin tidak akan dilirik. Saya pun tidak mendapat respon. Tadinya saya mengajak seorang teman, tapi dia tidak jadi ikut. Jadi saya memutuskan untuk memajukan perjalanan karena teman saya itu tidak jadi ikut. Saya langsung nitip beli tiket kereta sritanjung untuk tanggal 4 mei. Lalu dengan pedenya menghubungi agen live on board itu, kalau saya jadi mau ikut untuk tanggal 8 mei. Dia mengiyakan dengan mudah, mungkin karena saya cuma sendiri. Itu saya kasih tahunya sekitar tanggal 1 mei. Harusnya kan saya bayar DP, tapi entah kenapa dia santai saja. Saya minta no rek tapi dia tidak kasih. Ya saya juga santai. Saya berpikir, masa bodohlah, lebih bagus malah kalau saya tidak DP dulu, kali saja pas di lombok saya berubah pikiran, hehe.
Keesokan harinya, ada yang komentar lagi di blog info tentang gili trawangan, dia bilang mau backpack sendiran ke gili juga di tanggal 5, dia mencantumkan kontaknya. Saya menghubungi cewek ini bilang mau gabung sama dia ke gili. Sumpah itu aneh banget, saya bahkan tidak tahu bagaimana bisa saya menghubungi dia. Oke sebut saja dia mba D. Mba D ini ternyata sudah di bali dan sedang berangkat ke lombok ketika saya bahkan masih di rumah. Saya sempat panik, loh kok duluan. Ternyata dia mau jalan-jalan dulu di lombok sebelum ke gili. Saya pun tenang kembali. Kami akhirnya janjian di pelabuhan bangsal tanggal 5 mei siang/sore, tergantung saya sampai lombok jam berapa. Jujur itu mepet banget. Tapi saya sudah masa bodoh, yang penting ketemu teman, meski belum pernah bertemu dan hanya kontak lewat hape.
Saya mengawali perjalanan dari Karawang. Saya naik bis malam menuju Yogyakarta. Mengapa saya naik bis? Jawabannya mudah, karena saya cari gratisan dengan cara menukar 10 tiket dengan 1 tiket gratis. Lucunya, malam itu jalur bus tidak lewat pantura. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di pantura, sepertinya sih jalan pantura sedang macet karena bolong atau diperbaiki jadi bisnya malah berputar ke bandung dulu dan akhirnya lewat jalur selatan. Saya senang-senang saja karena dengan memutar, saya bisa lewat bandung dan melihat pemandangan kota bandung yang cantik di malam hari dari tol Cileunyi. Usut punya usut, tadinya saya merencanakan transit di bandung dan naik kereta ekonomi dari kiaracondong. Saya punya memori yang menyenangkan selama kuliah di Bandung jadi saya berencana main ke bandung dulu. Tapi karena dapat gratisan tiket bis, tidak jadi ke bandung. Tanpa diduga, saya akhirnya lewat bandung juga. Saya langsung teringat perjalanan-perjalanan lain di masa kuliah yang selalu saya mulai dari kota ini, terlebih ketika memandang gemerlap cahaya kota bandung di malam hari, entah dari kereta atau bis, pemandangannya mirip.
Saya tiba di Jogja di pagi hari dan turun di Gamping. Dari pertigaan Gamping, saya naik ojek ke rumah Pakde saya yang terletak di sekitar Ringroad. Saya sengaja membeli tiket kereta untuk keesokan paginya supaya bisa beristirahat dahulu di Jogja sebelum naik kereta ke banyuwangi. Karena alasan itulah saya benar-benar tidak keluar rumah hari itu, sedangkan biasanya saya kelayapan kalau sudah di Jogja. Saya sengaja menyiapkan tenaga karena besoknya perjalanan saya akan lanjut terus sampai Lombok.
Keesokan harinya, bude saya sudah menyiapkan dua bungkus nasi gudeg yang enak sekali ditambah sekantung makanan yang dibelikan sepupu saya. Wah, saya bersorak dalam hati, lumayan tidak perlu beli jajan sampai lombok. Untung saya mampir Jogja dulu dan tidak bablas lanjut perjalanan.
Saya diantar ke stasiun lempuyangan oleh sepupu saya. Tiket sritanjung sudah saya beli beberapa hari sebelumnya. Saat saya beli di awal bulan mei 2014, pemerintah mensubsidi lagi kereta ekonomi, jadi harga tiket kereta sritanjung dengan rute yogyakarta-banyuwangi adalah 55ribu. Lumayan murah untuk saya yang baru lulus kuliah dan masih pengangguran. Namun kereta ekonomi sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan tiga tahun lalu saat saya naik kereta yang sama. Dulu itu tidak ada nomor tempat duduk, sistemnya rebutan dan sudah pasti berdesakan karena jumlah penumpang selalu melebihi kapasitas tempat duduk. Panas pula, tidak ada kipas angin apalagi ac. Sekarang, keretanya sudah ber-ac (meski kalau di siang hari dan penuh penumpang, ac nya tidak terlalu terasa) dan jumlah penumpang yang diangkut mengikuti jumlah kursi yang tersedia. Jadi sudah pasti dapat tempat duduk. Beda sekaki dengan beberapa tahun sebelumnya. Dulu itu, perjuangan kalau naik kereta ekonomi, mulai dari beli tiket yang pasti berdesakan karena dijual go show, berdesakan saat di keretanya, rebutan tempat duduk, dan panasnya minta ampun, apalagi kalau sudah di sekitar madiun sampai surabaya. Untunglah, sekarang kondisinya sudah lebih baik, termasuk jadwal yang tidak terlalu ngaret.
Jogja-banyuwangi ditempuh kurang dari 14 jam. Saat di kereta, mba D menghubungi saya kalau satu temannya, sebut saja bang A, mau ikut ke gili trawangan. Bang A berangkat dari bali. Saya disarankan berangkat ke lomboknya bareng si A ini. Oke, akhirnya saya janjian di padang bai sekitar jam 8 pagi, karena info dari internet bilang kalau saya berangkat jam setengah tiga dari gilimanuk, saya akan sampai jam 8 pagi di padang bai.
Di kereta juga, saat di jember, saya sempat mengobrol dengan seorang bapak yang berpindah tempat duduk di depan saya karena kursi kosong. Memang tidak ada yang kebetulan, saat saya bilang saya akan ke gili trawangan, bapak tersebut bercerita kondisi gili trawangan di akhir tahun 80an. Katanya dulu pulau itu sepi, tidak berpenghuni. Saya jadi mendapat sedikit cerita tentang nusa tenggara di masa lalu, ketika beliau bertugas disana.
Sekitar jam 9 malam, saya sudah sampai di stasiun banyuwangi baru. Saya sempat cuci muka dan gosok gigi di kamar mandi stasiun. Saya agak santai karena saya memang tidak akan langsung menyebrang ke bali. Berbekal info di internet, bus gilimanuk-padang bai baru beroperasi sekitar jam 2 pagi. Jadi saya berencana berangkat dari banyuwangi sekitar jam 12 malam. Setelah sempat bersih-bersih seadanya, saya keluar dari stasiun. Di situ saya sempat merasa seperti anak hilang karena saya membawa carier, sendirian, perempuan pula. Saya berlagak cuek saja, duduk di depan stasiun dekat pintu keluar. Saya makan nasi gudeg yang masih tersisa satu bungkus. Oke saya punya waktu tiga jam dan cukup bingung bagaimana menghabiskan waktu selama itu sendirian. Entah bagaimana awalnya, saya akhirnya mengobrol dengan bapak penjual nasi bungkus di depan stasiun. Beliau kira saya mau naik rinjani (mungkin karena melihat carier saya) tapi saya bilang, saya memang mau ke lombok tapi tidak naik gunung. Rasanya beliau kasian sama saya yang pergi sendirian jadi beliau menawarkan untuk pindah duduk di tempat yang lebih ramai, sambil ngobrol-ngobrol dengan yang lain katanya. Kami sempat mengobrol sampai jam setengah 11, juga dengan beberapa orang di stasiun. Saya sempat diwanti-wanti untuk hati-hati, apalagi saat di gilimanuk, juga disarankan untuk berangkat jam 12 saja. Mungkin karena mata saya sudah kelihatan mengantuk, saya dianjurkan untuk tidur, nanti akan dibangunkan jam 12. Saya pun pindah, tidur di atas tikar yang sudah digelar oleh bapak. Sayang saya tidak bisa tidur, hanya memejamkan mata dan mengistirahatkan badan sejenak. Menjelang jam 12 saya bangun sendiri dan bersiap-siap. Bapak pun meminta temannya mengantar saya naik motor ke pelabuhan. Saya awalnya menolak karena tidak mau merepotkan dan memang sudah biasa sendirian. Tapi bapak memaksa, katanya mesakke melihat perempuan berjalan di tengah malam sendirian, sudah dianggap seperti anak sendiri. Saya sempat keras kepala menolak, namun begitu bapak menceritakan ada kasus kriminal yang terjadi di sana beberapa waktu lalu saya akhirnya menyerah dan membiarkan saya diantar. Sumpah, baik sekali. Saya benar-benar diantar sampai depan loket tiket feri, free. Setelah membeli tiket, saya berjalan sendiri mencari ferinya. Lucunya, saya diturunkan bukan di loket umum yang biasanya. Karena bapak berpesan pada temannya untuk mengantar saya sampai depan loket, saya diantar ke loket paling ujung. Nah sepertinya ini bukan loket penumpang umum. Dulu saya tidak lewat sini soalnya. Jadi saya agak bingung. Tapi kelihatan bingung dalam perjalanan itu haram hukumnya, hehe. Jadi ya saya sok tahu saja. Setelah bertanya, saya berjalan menuju feri yang sudah mau berangkat. Awalnya sempat ragu, kok beda ya sama yang biasa. Ya sudahlah, saya masuk saja. Ternyata itu feri untuk angkut kendaraan, khususnya truk, kalaupun ada penumpang, ya sedikit sekali jumlahnya, kebanyakan pedagang sayur dan ayam. Mereka pun tidak masuk, hanya berdiri atau berselonjor di depan truk-truk. Tempat duduk di feri pun bisa dihitung dengan jari. Ah, kocak pokoknya. Untungnya ada sepasang suami istri, selain pedagang yang ikut feri tersebut. Kata mereka, biasanya feri yang ini lebih cepat sampai. Tapi entah kenapa malam itu, kami lama sampai di gilimanuk, hampir jam setengah tiga. Suami istri tersebut sempat menawari ikut mereka naik mobil, tapi cuma sampai Negara. Saya pikir daripada nanti ribet naik bis lagi pas di Negara, saya menolak dan kekeuh naik bis, yakin kalau bisnya sudah ada jam segitu. Padahal saya juga tidak tahu dan hanya modal googling saja. Begitu keluar pelabuhan, saya berjalan menuju terminal kecil di luar perlabuhan. Saya sudah diperingatkan di banyuwangi untuk tidak naik bis besar lintas provinsi, melainkan naik bis kecil saja dari terminal. Saya pun mencari bis tujuan padang bai. Untungnya saya tidak dibohongi narasumber saya di internet. Bisnya memang sudah ada jam segitu. Begitu masuk terminal, calo-calo sudah menghampiri saya. Sempat takut sih, cuma ya belagak sudah biasa saja dan bilang mau ke padang bai. Seorang remaja mengantar saya ke bisnya. Bodohnya, saya tidak nego dan langsung naik bis. Dan jeng jeng, saya penumpang pertama. Waduh, itu sudah hampir jam 3 dan saya khawatir kalau ngetem lama. Gilimanuk-padang bai ditempuh selama 5-6 jam. Dengan kondisi subuh-subuh begini dan sepi penumpang, saya takut sampai saat siang hari di padang bai karena janjian dengan si A jam 8 pagi. Rencananya juga saya mau nyebrang hari itu juga ke gili trawangan karena sudah janjian dengan mba D di bangsal. Saya tadinya mau keluar tapi pintunya dikunci sama kenek remaja yang mengantar saya ke bis. Hahaha. Saya sempat panik, kok dikunci sih, mana saya sendiri lagi di bis. Mungkin karena dia melihat saya berusaha keluar dari bis, dia datang dan bertanya pada saya, mau ngapain mbak? Saya menyembunyikan ketakutan saya dan bilang, ini berangkatnya jam berapa ya? Dia jawab sebentar lagi, tunggu saja. Saya pun duduk pasrah menunggu. Seorang bapak menaiki bis dan duduk di belakang. Sekitar 10 menit kemudian, bis akhirnya berangkat dan itu sudah jam setengah empat pagi. Sebelum berangkat, pak supir sempat menyemprot minyak wangi ke sekujur tubuhnya. Saya tersenyum geli, jangan-jangan karena belum mandi. Bis berjalan fluktuatif, kadang lambat, kadang ngebut. Saya sudah pasrah kalau nanti telat. Saya yang super ngantuk karena belum tidur seharian jadi ketiduran. Saya bangun karena kenek meminta ongkos. Informasi di internet bilang ongkosnya 50 tapi itu tahun lalu, pas di banyuwangi saya sempat diberitahu ongkosnya 60. Daripada pusing, jadi saya tembak saja 60. Saya tidak tega nawar 50, karena bisnya sepi juga. Si kenek mengiyakan. Saya pun tertidur. Kira-kira menjelang pagi, si A dan mba D menanyai dimana posisi saya. Saya yang masih ngantuk jadi linglung jawabnya dan membuat mereka, juga saya sendiri, bingung dengan jawaban saya. Saya tanya abang kenek, telinga saya mendengar arjosari. Saya heran, kok kayak di malang. Tapi ya saya beritahukan saja saya sudah di arjosari, entah dimana itu. Seperti dugaan saya, mereka menertawakan saya dan bilang, apa saya tidak salah dengar. Saya sudah tahu sih sepertinya saya salah dengar jadi saya tanya lagi ke kenek. Dengan logat kental kenek, jawaban yang saya dengar tetap sama, wah ini kayaknya kuping saya ngaco. Saya ganti saja pertanyaannya, 'ini masih di negara?' Akhirnya saya mendapat jawaban yang informatif, 'bukan ini sudah di tabanan'. Belakangan saya tahu, tempat yang saya tanyai itu ternyata memang bukan arjosari melainkan ardosari. Pantesan jawaban saya ditertawakan. Saya pun bertanya lagi, jam berapa sampai di padang bai, karena si A harus tahu supaya dia bisa mengira-ngira kapan harus berangkat dari kosannya di benoa. Bapak supir menjawab, jam 10 paling cepat, belum kalau nanti ngetem di ubung. Harusnya kalau saya sampai jam 8 pagi, saya masih bisa ngejar kapal untuk menyebrang ke gili trawangan. Wah, ini sih alamat telat. Saya janjian sama mba D pada sore hari di bangsal. Akhirnya mba D menyarankan A untuk menjemput saya di ubung lalu kami naik motor sampai padang bai, sekalian membawa motornya ke lombok. Tujuan membawa motor sampai bangsal sih tadinya supaya tidak perlu repot cari kendaraan umum dari lembar sampai bangsal. Saya diam-diam bersorak, lumayan tidak perlu repot ngeteng-ngeteng. Saya pun dijemput di ubung sekitar jam 8 pagi. Kata si A, saya bahkan belum bertemu dengan mba D tapi sudah ketemu A duluan daripada mba D, padahal saya kontakan sama mba D dulu. Saya cuma tertawa, iya juga ya. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan modal gps, berhubung A baru dua minggu di bali. Tadinya saya kira dia sudah lama tinggal di bali, ternyata baru datang. Sekitar satu setengah jam kemudian, kami sampai di padang bai. Saat mau masuk pelabuhan, ada petugas polisi yang memeriksa menanyakan stnk. A hanya membawa fotokopi stnk, karena motornya menyewa. Saya juga baru tahu saat itu. Kami diberi pilihan, kembali ke benoa untuk ambil stnk atau titip motor di padang bai. Daripada kembali ke benoa dengan pantat pegal-pegal dan menghabiskan waktu, kami memilih menitipkan motor di penginapan sekitar pelabuhan.
Saat menitip motor, pemilik penginapan menawarkan naik fast boat saja karena hanya satu setengah jam langsung diantar sampai gili trawangan. Jujur saya baru tahu ada fast boat ke gili trawangan, karena info internet kebanyakan naik feri biasa yang butuh waktu 5-6 jam, itu pun hanya ke pelabuhan lembar. Kalau ngeteng, dari lembar, kita harus naik kendaraan sampai mataram baru ke bangsal. Mungkin memakan waktu 3 jam kalau lancar. Bapak itu menawari kami tiket fast boat seharga 200 ribu sekali jalan dengan lama perjalanan hanya satu setengah jam ke gili trawangan. Saya coba nawar tapi tidak bisa, harga pas katanya, sudah lebih murah daripada kalau beli dari lombok ke padangbai. Mendengar penawaran fast boat yang cepat dan mudah, mengingat kami tidak bisa bawa motor, A langsung tertarik. Jiwa backpacker saya awalnya sempat menolak. Namun kalau dipikir-pikir sama saja harganya. Kalau saya naik feri biasa, ada kemungkinan tidak akan terkejar penyebrangan ke gili, sedangkan sudah janjian sama mba D karena kami akan sharing kamar di sana. Kalau telat saya harus nginap di bangsal, jatuhnya kan jadi sama saja. Rasanya naik fast boat adalah pilihan terbaik saat itu. Tadinya mau naik yang jam 10.00, tapi sayang sudah keburu berangkat jadi kami naik yang jam 12.00. Sambil menunggu, kami jalan-jalan nggak jelas di sekitar padang bai.
Waktu naik boat, jumlah orang indo di kapal bisa dihitung dengan jari. Mungkin karena saat itu bukan bulan liburan. Di situ saya jadi sadar, ada dua tipe umum bule yang pergi ke gili, traveler sejati atau sekedar mau party. Nah yang saya temui kala itu kebanyakan judes. Begitu pula yang di gili nantinya. Saya ini naif sekali, saya kira semua turis yang datang ke indo itu memang traveler sejati. Ada perbedaan besar diantara keduanya. Kalau traveler atau backpacker, biasanya lebih ramah dan mau menyapa orang lokal. Sekalipun mereka juga mau party, mereka tidak akan sungkan berdialog dengan sesama traveler, tidak peduli orang lokal atau asing. Tapi tidak bisa disamaratakan juga sih. Bule biasanya memang lebih menghormati privasi seseorang dan lebih individualis daripada orang indo yang suka bergerombol kayak semut dan cenderung lebih terbuka. Ya, tidak tahu juga. Mungkin saya saja yang rada sensi waktu itu, hehe.
Gelombang laut sedang bersahabat siang itu. Kami sampai satu setengah jam kemudian di gili trawangan, sayang berangkatnya agak telat. Mungkin sekitar jam dua kami sudah tiba di gili.
Karena tulisan ini sudah panjang, akan saya lanjutkan ke part 2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar