Minggu, 18 Mei 2014

Waerebo, Desa Adat yang Masih Meneruskan Budaya

Waerebo merupakan sebuah desa adat yang terletak di kabupaten Manggarai, Flores. Saat ini Waerebo telah menjadi daerah ekowisata. Untuk mencapai Waerebo, kita harus pergi ke perempatan Pela, yang terletak sebelum kota Ruteng apabila dari Labuan Bajo. Dari Pela, kita bisa naik ojek, kendaraan pribadi, atau otto, truk yang dijadikan angkutan penduduk lokal.

Saya memulai perjalanan ke Waerebo dari Labuan Bajo. Berlanjut dari cerita sebelumnya, saya mengikuti trip live on board dari lombok ke labuan bajo selama empat hari. Di malam terakhir, saya menginap di kapal bersama Max, salah satu peserta trip, bang Dan, guide kami, dan abk kapal.

Di pagi hari, saya membangunkan Max dan buru-buru pamit padanya karena kalau mau ke Waerebo, saya harus berangkat pagi daripada nanti kesorean sampai sana. Saya keluar pelabuhan bersama Bang Dan yang juga akan pulang kembali ke Lombok naik bus. Dia mengantar saya lebih dulu mencari travel. Beruntung, saat itu kami langsung bertemu travel yang tidak ngetem. Saya minta harga 60 ribu karena di blog yang saya baca, biasanya harganya segitu. Drivernya minta 70, ya sudah saya iyakan saja, mengingat saya cuma satu-satunya penumpang pagi itu dan mobil langsung berangkat. Bang Dan sempat menitipkan saya pada drivernya untuk diturunkan di tempat yang biasanya orang turun kalau mau ke Waerebo. Bang Dan sebenarnya tidak tahu Waerebo itu dimana. Saya sendiri pada awalnya tidak berencana pergi sejauh ini. Selama live on board, setiap kali ditanya yang lain, setelah sampai Bajo mau kemana, saya pasti bilang, mau main di bajo sehari atau dua hari lalu pulang. Memang ada keinginan ke Waerebo, tapi saya nggak kebayang aja nanti pulangnya pasti capek banget, soalnya saya berencana ngeteng. Namun di hari ketiga live on board, saya tiba-tiba memutuskan akan pergi ke Waerebo. Sayang banget soalnya sudah sampai sejauh ini, dan Waerebo (katanya) tidak terlalu jauh dari Bajo. Belum tentu kan saya ke sini lagi. Akhirnya berbekal info sangat minim dari blog, saya berangkat ke Ruteng. Yang saya ketahui, biasanya kalau mau ke Waerebo kita harus menghubungi orang sana yang akan mmembantu mengatur perjalanan kita, mulai dari guide dan penginapan, bahkan menjemput, soalnya Waerebo sudah menjadi ekowisata. Satu yang saya ketahui adalah Pak Martin. Saya mencoba sms Pak Martin sehari sebelum berangkat tapi tidak terkirim. Yasudah saya langsung jalan saja. Jujur saya menggampangkannya. Saya mengira untuk pergi kesana itu mudah. Sebelumnya saya pernah juga pergi ke Derawan sendirian, jadi saya agak pongah dan menganggap perjalanan ke sana akan 'normal' saja. Selain itu, blog yang memberi info tentang Waerebo juga tidak banyak. Selama perjalanan dari Bajo ke Ruteng, jalannya berkelok-kelok, naik turun bukit. Sempat ada kecelakaan truk yang sempat saya lihat. Jalannya memang rawan. Abang driver memberitahu saya, nanti saya akan turun di Pela. Saya juga sempat baca begitu, jadi saya iya-iya saja. Hampir setengah perjalanan, tidak ada penumpang lain. Namun setelah sampai ke desa terdekat, mulailah ada penumpang naik. Kebanyakan yang mau ke Ruteng. Lumayan sadis juga, kursi di belakang saya penuh sekali. Sepertinya abang driver membiarkan saya duduk sendiri di depan karena bang Dan menitipkan saya ke dia. Sepanjang jalan, saya melihat banyak anak sekolah yang berjalan kaki ke sekolahnya. Setelah saya perhatikan, jarak sekolah terdekat yang pertama saya temui jauh sekali. Selain itu, tidak ada angkutan umum seperti angkot. Ada sih satu dua angkutan seperti pick up kecil yang disulap jadi angkot, tapi itu jarang sekali. Sedih melihatnya. Mereka yang lahir dan besar di daerah yang transportasinya lancar, seharusnya bersyukur. Serius. Menapakkan kaki di daerah timur yang akses kemana-mana susah, menyadarkan kita bahwa ada begitu banyak hal yang sepatutnya disyukuri. Berangkat dari Bajo sekitar jam 7 pagi, saya sampai di pertigaan Pela sekitar jam sepuluh. Abang driver langsung memanggil ojek. Dikiranya saya mau naik ojek. Sumpah saya kaget, langsung dikerubungi ojek begitu sampai Pela, bahkan saya pun belum turun dari mobil. Saya memang berniat tidak naik ojek karena ongkosnya mahal, 150ribu! Karena saya konsisten menolak, lama kelamaan ongkosnya turun jadi 120ribu. Saya tetap menolak. Saya nanya abang driver, bukannya ada angkutan umum? Dia mengiyakan, katanya siang atau sore baru datangnya. Yasudah saya mau nunggu itu saja, tidak naik ojek. Dari blog saya juga dapat info katanya ada truk umum kalau mau ke Waerebo. Saya turun dan duduk di depan warung. Masih tidak menyerah, abang ojek mendekati saya. Saya dengan jujur bilang, uang saya terbatas, tidak akan cukup kalau saya naik ojek. Akhirnya dia benar-benar menyerah. Ibu pemilik warung sempat menanyai saya, mau ngapain ke Waerebo? Ada saudara? Saya menggeleng, bingung mau jawab apa. Dia sempat bilang ke saya, tarif ojek memang segitu. Banyak wisatawan yang naik ojek dari sini. Ah, tidak semua traveler itu orang berduit, hahahha, saya contohnya. Pergi modalnya nekat saja. Setelah memperhatikan sekeliling, di sekitar gang masuk, ada banyak kumpulan orang menunggu. Saya pun menyapa mba-mba dan anaknya yg masih balita. Saya ditanyai tentang alasan ke Waerebo, apakah saya punya saudara di sana. Sayangnya jawaban saya malah semakin membuatnya heran, kok saya mau ke sini hanya karena 'ingin tahu', bukan penelitian atau semacamnya, sendiri pula. Di sisi lain saya juga sama bingungnya, memang ada yang aneh dengan yang saya lakukan? Hm, mungkin iya. Entahlah. Usut punya usut, ternyata mereka semua juga menunggu otto (truk yang disulap sebagai angkutan di Ruteng). Wah, selamat saya. Meskipun orang Manggarai, dia belum pernah ke Waerebo. Jadi dia juga tidak tahu bagaimana kalau mau kesana. Rasa aman saya pun berkurang. Tidak lama, saya melihat mas-mas menjual makanan dengan tulisan 'bakso solo' di seberang jalan. Berhubung saya lapar dan butuh informasi sebanyak-banyaknya, saya pun memutuskan makan bakso. Mulailah saya sok kenal sama masnya yang ternyata berasal dari semarang. Sayang, seperti ibu tadi, mas nya belum pernah ke Waerebo. Katanya sih Waerebo itu masih jauh. Saya disarankan naik otto saja yang murah, bilang mau ke Waerebo. Nanti turun di tempat paling terakhir. Dia juga ngga tahu namanya apa. Dari blog terakhir yang saya baca, katanya nama desanya Dintor, tapi masnya tidak tahu juga. Dia cuma bilang, 'mungkin itu, pokoknya turun di pull terakhir dari ottonya'. Tepat setelah selesai ngebakso, otto pun datang. Lebih cepat dari yang saya duga. Katanya abang ojek dan ibu warung, otto datangnya sore, ternyata tidak. Apa saya dibohongi? Hehe, entahlah. Yang penting ottonya datang. Mas bakso pun membantu saya dan bilang ke supirnya bahwa saya mau ke Waerebo. Begitu otto datang, keneknya langsung menaruh tas saya di atas terpal penutup truk. Saya memanjat sisi truk untuk duduk di dalam truk yang memang sudah disulap jadi tempat duduk penumpang. Empet-empetan. Lucu sih jadinya. Di belakang otto yang saya naiki, ada satu otto lain, jadi jalannya iring-iringan. Wah kocak banget. Medannya pun perbukitan dengan lebar jalan sekitar 3 meter, aspal seadanya, tanpa pengaman jalan yang langsung bersisian dengan jurang. Oke, saya agak deg-degan naik otto ini, apalagi kalau sudah berpapasan dengan kendaraan lain, ditambah abang supir nyetirnya kencang. Bermodal percaya pada sang driver, saya pun akhirnya berhasil menikmati perjalanan dengan menggunakan otto. Saya mengecek hape, sms ke Pak Martin bahkan belum terkirim. Yasudahlah. Gimana nanti saja. Pemandangan cantik sepanjang jalan membuat saya terbuai dan segera melupakan. Sampai setelah satu jam, bapak di sebelah saya bertanya, 'mau kemana?' Saya tahu kalau saya jawab Waerebo, pasti saya akan terlihat aneh jadi sejujurnya saya bingung. Akhirnya saya jawab mau turun di pemberhentian terakhir. Rasanya kami saling tidak konek, karena saya tidak mengerti bahasa si bapak dengan logatnya yang kental dan bahasa indonesia yang terbatas, begitu pula halnya dia. Jadi percakapan terhenti. Lalu entah bagaimana, ada orang lain yang bertanya lagi, akhirnya ketahuanlah saya mau ke Waerebo. Satu otto pun heboh semua. Saya pun ditanya-tanyai lagi seperti sebelumnya. Kira-kira begini: (?)Suaminya orang Waerebo? Menggeleng (?)Penelitian? Bukan (?)Kuliah? Bukan (?)Mau ngapain ke sana? (ragu menjawab) Ingin tahu saja (?)Ah, tidak mungkin itu. Hmm(Bingung komentar apa) (?)Mau penelitian bahasa ya? Nggak (?) ada keluarga disana? Nggak (semakin menyadari pertanyaan muter2 disitu) Akhirnya ada yang nyeletuk, Oh, wisata wisata. Ya terserah saja, daripada terus muter-muter. Fokus saya pun jadi buyar karena semakin banyak informasi yang masuk, semakin bingunglah saya. Info yang saya dapat dari blog pun ternyata tidak sejelas yang saya bayangkan ketika sudah dijalani. Ya kayak gini ini. Malah makin buyar. Ada ibu-ibu yang malah menawarkan naik ojek dari tempat dia turun nanti, 50ribu saja katanya. Ada yang bilang saya salah naik otto, seharusnya naik otto yang di belakang karena yang ini tidak sampai Waerebo. Saya bahkan disuruh turun nanti di dintor dan ganti otto. Ih sumpah, bingung banget saya waktu itu. Saya kira, acuan turun di tempat pemberhentian terakhir itu cukup jelas. Ternyata tidak. Yasudah setiap ditanya, saya bilang saja turun di Dintor saja karena info dari internet begitu, meskipun saya sejujurnya tidak yakin. Sempat saya berpikir, kayaknya saya terlalu sotoy dan nekat. Apa saya pulang saja? Ah, tapi sayang banget. Akhirnya saya pasrah. Lalu seorang kakek menanyai saya, 'mau ke Waerebo?' Saya mengangguk. 'mau naik ke atas?' Iya. 'sama ibu itu saja (menunjuk seorang ibu yang duduk di belakang), dia orang Waerebo.' Sang ibu pun menanyai saya lagi, apakah saya mau naik ke atas hari itu juga? Kalau sempat, saya mau. Beliau seperti menghitung sesuatu, 'ya bisa kalau otto sampainya cepat. Nanti ikut saya saja.' Ah, rasanya beban saya berkurang banyak meskipun saya tidak tahu, siapa ibu ini. Kami duduk berjauhan dan diselingi banyak penumpang lain, jadi tidak bisa ngobrol. Saya percaya saja deh sama kakek dan ibu tadi. Traveling sendirian itu modal utamanya memang 'percaya'. Hehe. Sempat saat di dintor saya diingatkan untuk turun dan berganti otto sama penumpang lain. Tapi karena ibu itu diam tidak berpindah ya sudah saya ikuti saja. Entah kenapa, saya lebih percaya si ibu. Setelah otto agak sepi, mas-mas di depan saya mengajak ngobrol banyak. Dia penasaran saya darimana, mau ngapain dan sebagainya. Pertanyaan yang sama lagi. Dia juga belum pernah ke Waerebo. Dari puluhan penumpang di otto, rasanya yang sudah pernah ke Waerebo tidak sampai lima orang. Atau jangan-jangan hanya si ibu itu saja. Saya jadi penasaran, seterpencil apa desa ini sampai orang di desa sekitar sendiri malas ke sana? Buat orang Manggarai sendiri, mereka akan merasa aneh pada orang-orang seperti saya, yang jauh-jauh datang ke Waerebo. Mereka saja tidak tertarik, saking jauh dan pelosoknya. Untung saya tidak sok tahu dan turun di Dintor. Dari Dintor, perjalanan ternyata masih jauh. Dalam hati saya bertanya-tanya, kapan sampainya? Apa saya salah jalan? Kesasar? Hahaha, pokoknya bingung. Tapi si ibu itu mukanya santai-santai saja. Akhirnya saya menenangkan pikiran saya dan sekali lagi mencoba untuk percaya. Sekedar info, Dintor itu daerah pantai. Aneh ya? Awalnya kita naik turun bukit dari Pela, lewat pantai cantik di Dintor, dan naik bukit lagi menuju Denge, desa terakhir yang bisa dicapai dengan otto/mobil. Pantai di Dintor cantik sekali. Sayang saya tidak memotretnya. Bahkan saat otto lewat Dintor, saya melihat beberapa penjual ikan segar di sana. Sekitar jam setengah empat sore, otto yang saya naiki akhirnya berhenti. Penumpangnya hanya saya dan ibu yang saya ikuti. Saya tidak salah naik otto seperti yang dikatakan salah satu penumpang sebelumnya. Saya pun turun dan membayar ongkos, 20 ribu! Murah banget dengan medan yang bikin jantung deg-degan. Ongkos ojek semahal itu menjadi wajar karena Denge, desa terakhir yang dapat dilalui mobil menuju Waerebo, jaraknya jauh dari Pela. Jalannya juga belum terlalu bagus. Saya turun di depan sebuah penginapan. Otto juga sempat parkir di situ. Si Ibu mempersilakan saya masuk. Hm, saya bingung waktu itu. Seorang bapak menyambut saya di pintu, membantu saya menaruh tas. Ternyata bapak ini adalah Pak Blasius, suami dari ibu tersebut. Sebagai info, biasanya kalau orang mau ke Waerebo, ada dua orang yang bisa dihubungi, Pak Blasius dan Pak Martin, mereka berdua adalah kakak beradik, memiliki penginapan yang bisa ditinggali sebelum naik ke atas. Sumpah saya takjub sendiri, saya ini pergi dadakan ke sini, nekat, dengan minim info, bahkan tidak menghubungi Pak Martin (sebelumnya saya hanya tahu Pak Martin karena di blog yang saya lihat contact personnya hanya Pak Martin). Eh taunya saya satu otto sama istrinya Pak Sius, kakaknya Pak Martin, yang rumahnya berada tepat di jalan masuk sebelum kita mendaki ke Waerebo. Kebetulan? Hm, saya sih tidak percaya sama yang namanya kebetulan, hehe. Tidak lama, saya langsung makan mie rebus yang disiapkan istri Pak Sius. Lapar sekali rasanya. Saya tidak jadi naik sore itu karena malah bahaya naik malam-malam. Saya ikutan main voli sama anak-anak kecil di depan rumah. Dua anak Pak Sius dan tetangga dekat rumah. Sore itu saya habiskan dengan ketawa ketiwi bersama anak-anak. Istri Pak Sius menyajikan singkong goreng dan teh manis hangat untuk saya. Beliau cerita bahwa dia adalah orang Waerebo yang sudah turun gunung, artinya tidak tinggal di desa adat lagi. Ibu juga merasa pertemuan kami lucu. Jadi hari ini, ibu 'kebetulan' menengok anak pertamanya yang sedang sakit di Ruteng. Katanya, cukup jarang ibu pergi ke Ruteng. Dan saya bisa satu otto pula. Ibu bertanya, seandainya saya tidak ketemu ibu bagaimana? Saya tidak bisa membayangkan. Mungkin sampai tapi beda cerita. :) Malamnya, ibu memasak sayur dan ikan goreng. Bumbunya sederhana tapi enak. Yang saya perhatikan, nasinya pasti nasi merah. Saya makan bersama Pak Sius di ruang tamu. Pak Sius adalah guru SD yang letaknya di sebelah rumah. Orang asing pertama yang datang ke Waerebo adalah cewek Inggris yang datang meneliti bahasa Manggarai di tahun 90an. Dia tinggal di Waerebo entah setahun atau dua tahun, saya lupa. Pokoknya dia sudah lancar bahasa Manggarai. Pak Siuslah yang menemani wanita ini. Sejak itu, artikel tentang Waerebo mulai ditulis dalam jurnal dan dipublikasikan hingga akhirnya dunia luar tahu tentang desa adat ini, khususnya di kalangan orang asing. Tidak heran, pada awalnya, lebih banyak turis asing yang mengunjungi Waerebo. Sejak Waerebo ditetapkan menjadi situs warisan dunia, mulailah orang lokal mengenalnya. Namun, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, orang Flores atau Manggarai sendiri banyak yang tidak tahu tentang Waerebo. Tidak jarang, sekalipun tahu, tidak berminat datang kesana, kecuali orang Waerebo sendiri yang pergi merantau. Tidak lama, seorang bapak datang ke rumah yaitu Pak Anselmus. Beliaulah yang akan mengantar saya naik ke atas. Jadi kalau mau ke Waerebo, biasanya akan ada pemandunya. Kalau berani dan tahu jalan sih bisa saja pergi sendiri, cuma kalau tamu dianjurkan dengan guide. Namanya juga hutan. Besok saya diingatkan untuk berangkat sekitar jam 6/7 pagi, ditemani pak Anselmus. Lama perjalanan 3-4 jam, tergantung kecepatan naik. Malam itu saya langsung istirahat. Keesokannya saya mandi, sarapan bersama pak sius dan pak anselmus. Jam tujuh kurang, saya berangkat, berdua saja dengan pak anselmus. Untung pak anselmus senang ngobrol jadi ya tidak sepi-sepi amat. Medan menuju Waerebo masih alami, sepanjang jalan di sekitar denge atau dekat waerebonya, kita bisa melihat perkebunan milik warga, kebanyakan sih kopi. Waerebo adalah salah satu daerah penghasil kopi Manggarai. Ada dua tempat peristirahatan menuju waerebo, yaitu waelomba dan satu lagi lupa namanya. Kami sampai sekitar jam sepuluh kurang. Jadi sekitar tiga jam mendaki. Sekitar dua ratus meter sebelum masuk kampung, saya diminta membunyikan kentungan pertanda untuk warga kampung bahwa ada tamu yang datang. Dari pos tempat lonceng dibunyikan, ada larangan untuk memotret apapun atau melakukan hal yang aneh-aneh. Karena kita harus minta izin masuk kampung dahulu ke ketua adat di rumah gendang. Ingat, ini desa adat. Saya pun diantar masuk ke rumah gendang, yang adalah rumah utama. Pak Anselmus memintakan izin dalam bahasa Manggarai untuk saya, dan tetua adat pun menjawab dalam bahasa Manggarai. Roaming. Kata Pak Anselmus, intinya meminta izin beraktivitas di kampung kepada penghuni termasuk leluhur kampung. Saya berkenalan dengan penghuni rumah gendang yang ada, karena di siang hari biasanya sepi karena kebanyakan warga kampung pasti ke kebun. Mama vilo mengantar saya ke rumah hotel. Disebut hotel karena di situlah tamu akan menginap. Bentuk luarnya sama seperti rumah kerucut lain, tapi dapurnya terpisah. Para ibu di Waerebo dibagi-bagi dalam kelompok/grup dalam menyambut tamu, sekitarnya 8 orang, bergantian setiap hari. Berapapun tamu yang datang, entah satu atau seratus, 8 orang itulah yang akan menyiapkan makanan untuk tamu. Saya ikut masuk dapur lalu duduk disana, memperhatikan dan membantu jika ada yang bisa saya kerjakan. Dapur orang Waerebo ini unik. Sebenarnya, di 6 rumah niang yang asli, dapur ada di dalam rumah, tepat di tengah namun menjorok ke belakang. Dalam satu rumah, ada banyak keluarga yang menempati dengan satu dapur yang sama. Tetapi di rumah hotel, dapurnya terletak terpisah. Tidak lama, kami pun makan siang. Nasi, sayur bening dan kerupuk. Sederhana tapi nikmat. Jangan berharap makanan yang aneh-aneh di sini. Waerebo terletak di bukit, jalan menuju ke Denge saja sudah sulit, apalagi ke Waerebo, yang harus didaki selama kurang lebih tiga jam. Jadi kalau mau ke sini, bersikaplah baik, jangan rese dan banyak mau. Toh, orang Waerebonya juga sudah baik hati menerima kita padahal di desa adat itu sebenarnya orang asing tidak diizinkan masuk. Makanya kita minta izin dulu ke ketua adat. Mama-mama yang memasak di dapur sempat cerita, dulu pernah ada tamu yang bilang, "kok makanannya ngga sebanding sih sama nginap di sini". Sumpah, saya yang dengar ceritanya saja gemes banget. Mama Vilo waktu itu menjawab, "kalau mau makan enak pergi ke kota saja jangan kesini". Di Waerebo itu apa-apa susah. Beras saja harus dipikul sendiri lalu dibawa ke atas, jalan kaki. Juga dengan bahan baku lain. Pengunjung yang begini ini, kadang suka bikin malu dan gemes sendiri. Harusnya bersyukur sudah dikasi makan. Setelah makan, mama Vilo bilang nanti mereka akan menemani saya tidur di rumah hotel. Katanya, ada kesepakatan, kalau hanya ada satu tamu perempuan, grup ibu-ibu yang bertugas hari itu akan tidur menemani tamunya. Karena hari itu saya cuma sendirian, maka nanti akan ditemani. Wah iya saya juga baru kepikiran. Aneh juga kalau tidur di ruangan sebesar ini sendirian. Selesai makan, saya ikut mama Vilo ke rumahnya. Di bawah rumah gendang, mama Vilo menenun kain. Saya sempat mau mencoba, tapi takut merusak hasil tenunan mama jadi cuma melihat saja. Dua anak lelaki mama ikut merusuh di sekitarnya. Saya diberi jeruk hasil kebun di waerebo oleh mama Katarina, mertua dari mama Vilo. Jeruknya sebesar sunkist tapi berwarna hijau, kulitnya juga tebal. Rasanya setengah manis setengah asam, segar. Anak-anak mama Vilo tidak bisa bahasa indonesia, jadi mama Vilo menerjemahkan apa yang dikatakan anak-anaknya sembari mengajari saya sedikit bahasa manggarai. Saya pun main sama anak-anak ini dan sepupu mereka. Sempat bosan, saya mendekati seorang nenek yang sedang mengumpulkan biji kopi yang sudah kering dijemur. Saya ikut membantu memasukkan biji ke karung. Setelah selesai, saya duduk di rumah sebelah rumah kendang. Di situ saya diberitahu, nenek yang saya bantu tadi sakit. Jadi agak sulit diajak bicara. Mungkin itu sebabnya saya sempat dilihatin sama ibu-ibu lain. Tapi nenek itu baik kok. Saya lalu diajak masuk ke rumah niang di sebelah rumah kendang dan kenalan sama penghuni rumah yang tidak pergi ke kebun. Melihat hal itu, seorang ibu di rumah sebelahnya lagi memanggil saya masuk. Saya pun berkunjung ke sana. Penghuni di rumah ini lebih banyak yang ada di rumah. Saya bercengkerama lebih banyak. Di siang hari, kampung Waerebo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar